Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar memberikan ruang bagi guru untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, karakteristik, tahap perkembangan, dan konteks kehidupan murid. Guru tidak hanya berperan menyampaikan materi, tetapi juga merancang pengalaman belajar yang membantu murid memahami konsep, menerapkan pengetahuan, mengembangkan karakter, dan melakukan refleksi.
Pada kebijakan terbaru, Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 merupakan perubahan atas Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. Regulasi tersebut memperkuat arah Pembelajaran Mendalam sebagai pendekatan dalam proses pembelajaran.
Artikel ini dapat menjadi panduan praktis bagi guru SD dalam memahami dan menerapkan Kurikulum Merdeka di kelas.
Apa Itu Kurikulum Merdeka?
Kurikulum Merdeka adalah kurikulum yang memberikan fleksibilitas kepada satuan pendidikan dan guru untuk mengembangkan pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik dan konteks satuan pendidikan.
Dalam regulasi terbaru, kurikulum dirancang dengan beberapa prinsip penting, yaitu pengembangan karakter, fleksibilitas, dan fokus pada muatan esensial. Fleksibilitas berarti pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan kompetensi peserta didik, karakteristik satuan pendidikan, serta konteks lingkungan sosial dan budaya.
Dengan demikian, guru tidak harus menggunakan satu pola pembelajaran yang sama untuk semua kelas. Guru dapat memilih strategi, metode, media, dan sumber belajar yang paling sesuai dengan kondisi murid.
Tujuan Penerapan Kurikulum Merdeka di SD
Penerapan Kurikulum Merdeka di sekolah dasar diarahkan untuk membantu murid berkembang secara utuh, baik dalam pengetahuan, keterampilan, maupun karakter.
Pembelajaran diharapkan dapat membantu murid:
memahami konsep secara lebih mendalam;
mengembangkan kemampuan berpikir kritis;
memecahkan masalah;
berkomunikasi dan berkolaborasi;
mengembangkan kreativitas;
menjadi lebih mandiri;
menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari; dan
melakukan refleksi terhadap proses belajar.
Dalam kebijakan terbaru, pengembangan kompetensi dan karakter tersebut diperkuat melalui Pembelajaran Mendalam.
Capaian Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka
Salah satu dokumen penting yang perlu dipahami guru adalah Capaian Pembelajaran (CP).
Capaian Pembelajaran merupakan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik pada setiap fase. CP menjadi acuan bagi guru dalam merancang pembelajaran intrakurikuler.
Untuk sekolah dasar, guru perlu memahami CP sesuai mata pelajaran dan fase yang diajarkan.
Secara umum, fase pada jenjang sekolah dasar terdiri atas:
Fase A: Kelas I–II
Fase B: Kelas III–IV
Fase C: Kelas V–VI
Pembagian fase membantu guru melihat perkembangan kompetensi murid secara lebih utuh dan tidak hanya berorientasi pada pencapaian materi per kelas.
Guru dapat mempelajari CP dan referensi Alur Tujuan Pembelajaran melalui Ruang GTK. Platform tersebut menyediakan informasi mengenai CP, Tujuan Pembelajaran (TP), dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).
Dari CP ke Tujuan Pembelajaran
Setelah memahami CP, guru dapat menentukan Tujuan Pembelajaran (TP) yang lebih spesifik.
Tujuan Pembelajaran menggambarkan kemampuan yang diharapkan dapat ditunjukkan murid setelah mengikuti proses pembelajaran.
Contohnya, pada pembelajaran IPAS:
Capaian yang dituju: murid memahami hubungan antara makhluk hidup dan lingkungannya.
Kemudian guru dapat merumuskan tujuan pembelajaran seperti:
Setelah mengamati lingkungan sekitar sekolah, murid dapat mengidentifikasi hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungan serta menjelaskan salah satu bentuk interaksi yang ditemukan.
Tujuan pembelajaran tersebut kemudian menjadi dasar dalam menentukan kegiatan belajar dan asesmen.
Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran
Setelah menentukan tujuan pembelajaran, guru dapat menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).
ATP membantu guru mengurutkan tujuan pembelajaran secara logis sehingga proses belajar berlangsung secara bertahap.
Guru perlu memastikan bahwa urutan tujuan pembelajaran:
sesuai dengan capaian pembelajaran;
memperhatikan perkembangan murid;
memiliki keterkaitan antarkonsep;
memungkinkan murid membangun pemahaman secara bertahap; dan
dapat dilaksanakan sesuai kondisi satuan pendidikan.
Ruang GTK juga menyediakan referensi CP dan ATP yang dapat digunakan guru sebagai sumber inspirasi dalam merancang pembelajaran.
Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran tidak seharusnya hanya menjadi dokumen administratif. Perencanaan perlu membantu guru menjawab tiga pertanyaan utama:
Apa yang harus dipelajari murid?
Bagaimana murid akan belajar?
Bagaimana guru mengetahui bahwa tujuan pembelajaran telah tercapai?
Dalam praktiknya, guru dapat merancang pembelajaran dengan memperhatikan:
tujuan pembelajaran;
karakteristik murid;
materi atau konsep esensial;
metode dan strategi pembelajaran;
media dan sumber belajar;
lingkungan belajar;
asesmen; dan
tindak lanjut.
Ruang GTK menjelaskan bahwa modul ajar merupakan dokumen perencanaan pembelajaran yang memuat langkah pembelajaran, asesmen, dan media yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Asesmen dalam Kurikulum Merdeka
Asesmen merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran.
Guru dapat melakukan asesmen pada:
awal pembelajaran;
selama proses pembelajaran; dan
akhir pembelajaran.
Asesmen awal dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik, potensi, kebutuhan, dan tahap capaian belajar murid. Informasi tersebut kemudian dapat digunakan untuk menentukan strategi pembelajaran yang sesuai.
Asesmen Formatif
Asesmen formatif digunakan selama proses pembelajaran untuk memperoleh informasi tentang perkembangan belajar murid dan memberikan umpan balik.
Contohnya:
pertanyaan lisan;
kuis singkat;
observasi;
diskusi;
jurnal belajar;
tugas;
unjuk kerja; dan
refleksi.
Asesmen Sumatif
Asesmen sumatif digunakan untuk mengetahui pencapaian hasil belajar setelah suatu periode atau unit pembelajaran.
Bentuknya dapat disesuaikan dengan kompetensi yang ingin diukur, misalnya tes tertulis, proyek, produk, praktik, atau bentuk asesmen lainnya.
Yang terpenting adalah asesmen harus sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Pembelajaran Berdasarkan Kebutuhan Murid
Setiap murid memiliki kemampuan awal, minat, pengalaman, dan kebutuhan belajar yang berbeda.
Karena itu, guru perlu menggunakan informasi dari asesmen untuk menentukan pembelajaran yang sesuai.
Pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL), misalnya, menekankan pentingnya mengetahui kemampuan murid melalui asesmen awal sehingga guru dapat merancang pembelajaran berdasarkan tingkat kemampuan murid, bukan hanya berdasarkan tingkat kelas.
Contohnya, dalam pembelajaran membaca:
kelompok pertama masih membutuhkan pendampingan mengenali kata;
kelompok kedua sudah dapat membaca kalimat sederhana;
kelompok ketiga sudah mampu membaca dan memahami teks pendek.
Ketiga kelompok tersebut dapat diberikan aktivitas yang berbeda sesuai kebutuhan belajarnya.
Pembelajaran Mendalam dalam Kurikulum Merdeka
Salah satu penguatan penting dalam kebijakan kurikulum terbaru adalah Pembelajaran Mendalam.
Pembelajaran Mendalam menekankan pembelajaran yang:
berkesadaran;
bermakna; dan
menggembirakan.
Pendekatan tersebut dilakukan secara holistik melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga.
Pembelajaran Mendalam tidak sekadar membuat materi menjadi lebih banyak. Justru guru diarahkan untuk memberikan kesempatan kepada murid memahami konsep secara lebih utuh dan menghubungkannya dengan kehidupan nyata.
1. Pembelajaran Berkesadaran
Murid memahami tujuan belajar dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
Murid tidak hanya mengikuti instruksi guru, tetapi memahami apa yang sedang dipelajari dan mengapa hal tersebut penting.
2. Pembelajaran Bermakna
Murid mampu menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata.
Misalnya, ketika belajar tentang lingkungan, murid tidak hanya membaca definisi pencemaran lingkungan, tetapi dapat mengamati kondisi lingkungan sekolah dan mendiskusikan cara menjaga kebersihan.
3. Pembelajaran Menggembirakan
Lingkungan belajar perlu memberikan rasa aman, nyaman, positif, dan menantang sehingga murid memiliki motivasi untuk belajar.
Regulasi terbaru menegaskan bahwa pengalaman belajar dalam Pembelajaran Mendalam mencakup memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.
Memahami, Mengaplikasi, dan Merefleksi
Memahami
Murid membangun pemahaman melalui membaca, mengamati, mendengarkan, berdiskusi, mencoba, dan mengeksplorasi.
Mengaplikasi
Murid menggunakan pengetahuan atau keterampilan yang telah dipelajari untuk menyelesaikan masalah atau menghadapi situasi nyata.
Merefleksi
Murid melihat kembali pengalaman belajarnya.
Guru dapat memberikan pertanyaan seperti:
Apa yang sudah saya pahami?
Apa yang paling menarik dari pembelajaran hari ini?
Apa yang masih sulit?
Bagaimana saya dapat menggunakan pengetahuan ini dalam kehidupan sehari-hari?
Ketiga pengalaman belajar tersebut merupakan bagian penting dari penerapan Pembelajaran Mendalam.
Contoh Penerapan di Sekolah Dasar
Misalnya guru mengajarkan topik Rantai Makanan pada IPAS kelas V.
Tahap 1 — Memahami
Guru menampilkan gambar ekosistem sawah.
Murid mengamati berbagai organisme yang terdapat di dalamnya, kemudian berdiskusi mengenai hubungan antara tumbuhan dan hewan.
Tahap 2 — Mengaplikasi
Murid membuat contoh rantai makanan berdasarkan ekosistem di lingkungan sekitar.
Contoh:
Padi → Belalang → Katak → Ular → Elang
Murid kemudian menjelaskan apa yang mungkin terjadi apabila salah satu organisme dalam rantai tersebut berkurang.
Tahap 3 — Merefleksi
Murid menjawab pertanyaan:
“Mengapa keseimbangan ekosistem harus dijaga?”
Dengan kegiatan tersebut, murid tidak hanya menghafal urutan rantai makanan, tetapi memahami hubungan antarmakhluk hidup dan dampaknya dalam kehidupan nyata.
Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran
Teknologi dapat digunakan sebagai alat untuk memperkaya pengalaman belajar.
Guru dapat memanfaatkan teknologi untuk membuat:
video pembelajaran;
presentasi interaktif;
kuis digital;
permainan edukatif;
simulasi;
infografis;
lembar kerja digital;
bahan ajar multimedia; dan
media pembelajaran berbasis kecerdasan artifisial.
Namun, teknologi sebaiknya digunakan karena memberikan nilai tambah terhadap pembelajaran, bukan sekadar karena terlihat modern.
Regulasi terbaru juga menempatkan pemanfaatan digital sebagai salah satu pendukung penerapan Pembelajaran Mendalam.
Koding dan Kecerdasan Artifisial
Perkembangan teknologi juga membuat kemampuan koding dan kecerdasan artifisial semakin relevan dalam pendidikan.
Guru dapat mengenalkan konsep tersebut melalui aktivitas yang sesuai dengan usia murid, misalnya:
menyusun langkah atau algoritma sederhana;
permainan logika;
pola dan instruksi;
aktivitas pemecahan masalah;
pengenalan cara kerja teknologi; dan
penggunaan AI secara aman dan bertanggung jawab.
Penggunaan AI dalam pembelajaran tetap perlu mempertimbangkan usia murid, keamanan data, etika, tujuan pembelajaran, serta peran guru sebagai pendamping.
Peran Guru dalam Kurikulum Merdeka
Guru merupakan faktor penting dalam keberhasilan implementasi kurikulum.
Guru dapat berperan sebagai:
Fasilitator
Menyediakan pengalaman dan sumber belajar yang membantu murid berkembang.
Perancang pembelajaran
Menentukan tujuan, strategi, aktivitas, media, dan asesmen.
Pengamat perkembangan murid
Menggunakan asesmen untuk mengetahui kebutuhan belajar.
Pemberi umpan balik
Memberikan informasi yang membantu murid memperbaiki proses belajarnya.
Pembelajar sepanjang hayat
Terus mengembangkan kompetensi melalui refleksi, kolaborasi, dan berbagi praktik baik.
Ruang GTK juga menempatkan kolaborasi dan berbagi praktik baik sebagai bagian penting dari pengembangan kompetensi guru.
Contoh Alur Pembelajaran yang Sederhana
Guru SD dapat menggunakan pola berikut sebagai inspirasi:
1. Asesmen awal
Mengetahui pengetahuan dan kemampuan awal murid.
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran
Murid mengetahui apa yang akan dipelajari.
3. Eksplorasi
Murid mengamati, membaca, mencoba, bertanya, atau mencari informasi.
4. Diskusi
Murid mengolah dan menghubungkan informasi.
5. Aplikasi
Murid menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah atau menghasilkan karya.
6. Presentasi
Murid menyampaikan hasil kepada teman atau guru.
7. Refleksi
Murid merefleksikan pengalaman dan hasil belajarnya.
8. Tindak lanjut
Guru memberikan pengayaan atau pendampingan sesuai kebutuhan murid.
Tips bagi Guru SD
Agar penerapan Kurikulum Merdeka berjalan efektif, guru dapat menerapkan beberapa langkah berikut:
1. Mulai dari kebutuhan murid
Jangan memulai pembelajaran hanya dari materi. Mulailah dengan memahami siapa murid yang akan belajar.
2. Fokus pada kompetensi esensial
Tidak semua materi harus dipelajari dengan kedalaman yang sama. Prioritaskan kompetensi yang paling penting.
3. Gunakan asesmen sebagai alat untuk belajar
Jangan menjadikan asesmen hanya sebagai alat pemberi nilai. Gunakan hasil asesmen untuk memperbaiki pembelajaran.
4. Hubungkan materi dengan kehidupan nyata
Semakin dekat materi dengan pengalaman murid, semakin besar peluang pembelajaran menjadi bermakna.
5. Berikan ruang kepada murid untuk aktif
Murid perlu mendapatkan kesempatan untuk bertanya, mencoba, berdiskusi, membuat karya, memecahkan masalah, dan menjelaskan pemikirannya.
6. Lakukan refleksi
Guru juga perlu melakukan refleksi:
Apa yang berhasil?
Apa yang belum berhasil?
Murid mana yang masih membutuhkan bantuan?
Apa yang perlu saya perbaiki pada pembelajaran berikutnya?
Kesimpulan
Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar memberikan ruang bagi guru untuk merancang pembelajaran yang fleksibel, berpusat pada murid, dan sesuai dengan konteks satuan pendidikan.
Dalam penerapannya, guru perlu memahami Capaian Pembelajaran, Tujuan Pembelajaran, Alur Tujuan Pembelajaran, perencanaan pembelajaran, dan asesmen. Guru juga perlu menggunakan hasil asesmen untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan murid.
Kebijakan terbaru melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 semakin memperkuat Pembelajaran Mendalam, dengan pengalaman belajar yang mencakup memahami, mengaplikasi, dan merefleksi, serta prinsip pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Dengan demikian, keberhasilan Kurikulum Merdeka bukan sekadar dilihat dari kelengkapan perangkat administrasi guru, tetapi dari seberapa baik pembelajaran membantu murid memahami, menerapkan, dan merefleksikan pengetahuan serta mengembangkan kompetensi dan karakternya.
Referensi Resmi
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah.
Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan. Keputusan Kepala BSKAP Nomor 033/H/KR/2023 tentang Perubahan Kedua atas Keputusan Kepala BSKAP Nomor 008/H/KR/2022 tentang Capaian Pembelajaran pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah pada Kurikulum Merdeka.
Ruang GTK – Kemendikdasmen. Mempelajari CP, TP, dan ATP di Ruang GTK.
Ruang GTK – Kemendikdasmen. Apa Itu Perangkat Ajar?
Ruang GTK – Kemendikdasmen. Apa Itu Asesmen Murid?
Ruang GTK – Kemendikdasmen. Mencari Asesmen Pembelajaran.

Posting Komentar untuk "Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar: Panduan Pembelajaran untuk Guru"